Oleh: Nazwar, S. Fil. I, M. Phil
*Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera
Hubungan atau dalam bahasa Arab adalah “shilat” dalam Islam menduduki posisi penting untuk dibangun dan dijaga. Sebagai bentuk harmoni antar sesama manusia yang paling dekat, Allah memberi penekanan berupa berbagai bentuk pengulangan perintah dan peringan akan hal itu. Secara umum, hubungan antar sesama manusia khususnya dapat ditemukan dalam dua bentuk, yaitu berdasar nasab dan hubungan keagamaan atau ukhuwah Islamiyyah.
Hubungan nasab merupakan hubungan primordial sekaligus anugerah Allah yang dikaruniakan secara begitu saja dengan penuh hikmah. Makna-makna serta berbagai kebaikan baik nyata atau perlu pengungkapan-pengungkapan dalam bentuk bahasa bisa digali hanya dari sana dan tidak mungkin didapatkan dari hal lainnya. Seperti kesamaan atau kemiripan fisik, kedekatan atau kepekaan rasa antar sesama saudara juga berbagai kecenderungan-kecenderungan dan berbagai bentuk nikmat lainnya.
Menjadi tidak mengherankan, menjalin dan menjaga serta senantiasa memperbaiki tali kekeluargaan berdasar nasab menjadi penting dan menjadikan pelakunya dapat jauh dari sifat dan perilaku tercela namun terbentuk karakter atau pribadi yang kuat serta mulia. Hubungan nasab baik bersifat keatas seperti orang tua dan keluarga-keluarga, sesama saudara juga ke bawah yaitu keturunan berupa anak cucuk dan seterusnya dan seterusnya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur’an Al-Alfaal: 75: “Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya daripada yang bukan kerabatnya di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Selanjutnya hubungan sesama manusia khususnya dalam beragama biasa disebut “ukhuwah Islamiyyah” atau persaudaraan keislaman. Urgensi hubungan persaudaraan dalam ikatan Keislaman berfungsi diantaranya merekatkan sesama sebagai makhluk Allah. Hubungan ini juga merupakan bentuk nyata dari rasa persatuan dalam keimanan serta agar menjauhkan perasaan iri atau dengki yang kadang tersisipkan oleh syetan atau secara begitu saja dalam berbagai interaksi sesama manusia tanpa disadari.
Maka langkah menjalin dan menjaga hubungan ini secara sungguh-sungguh menjadi semakin penting seiring menjaga persatuan dan kesatuan bersama. Untuk itu, terdapat juga do’a dari al-Qur’an yaitu Surat al-Hasyr, berikut kutipannya:
اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang beriman lebih dahulu dari kami. Janganlah Engkau tanamkan ke dalam hati kami perasaaan dengki kepada orang-orang yang telah beriman lebih dahulu. Wahai tuhan kami, sungguh Engkau Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada semua makhluq-Nya.” (**)

